Bebas Memilih 40 SKS; Kampus Merdeka Yang Tidak Memerdekakan Manusia

Sejak kebijakan Kampus Merdeka disuarakan oleh Mas Menteri Nadhiem Makarim, kritik seperti hujan yang berhasil membanjiri sosial media. Utamanya adalah persoalan implikasinya, yakni membuat manusia menjadi robot bernyawa.

Persoalan magang hingga 3 semester sudah ditulis secara reflektif oleh Ibu Dosen Ersa Tri Wahyuni di artikel sebelumnya. Silahkan dibaca di sini.

Kali ini, kita akan membahas tentang apakah kebijakan Kampus Merdeka itu benar-benar bisa memerdekakan kampus? atau justru sebaliknya, membuat penghuni kampus menjadi budak-budak industri?

Ini, berdasarkan pemberitaan Tirto.id tentang Tanggapan Mahasiswa terkait kebijakan Nadhiem Makarim.

Penggantian istilah dari jam belajar menjadi jam kegiatan ini persoalan mendasar, di kampus memang dididik dengan sistem belajar, menggunakan rasionalitas dan penalaran yang jelas sehingga dapat menyimpulkan persoalan secara sistematis.

Belajar kalau kita mau membuka KBBI diartikan “Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu” jelas sekali kan. Tujuannya untuk ilmu. Dengan ilmu ini nanti bisa diaplikasikan dalam kegiatan dalam kehidupan di masyarakat secara umum.

Kegiatan, dalam KBBI diartikan aktivitas, usaha, pekerjaan.

Mungkin, Pak Menteri ini ingin mengedepankan jangan terlalu banyak di kelas, sebab yang terpenting adalah sibuk dan bekerja. Karenanya diganti jam belajar menjadi jam kegiatan.

Padahal, belajar dan mengajar ini sudah termasuk kegiatan. Makanya, istilah KBM (kegiatan Belajar dan Mengajar)

Hal ini jelas akan menyesatkan pendidikan, sebab yang terpenting adalah punya ilmunya terlebih dahulu, baru kemudian diaplikasikan. Bukan sebaliknya melakukan kegiatan lalu belajar, atau dibarengkan berkegiatan sambil belajar. Ini lebih tak masuk akal.

Dikira mahasiswa itu anak kecil? belajarnya harus sambil bermain?

Dengan jam kegiatan ini, mahasiswa berhak mengambil mata kuliah yang tidak sesuai dengan program studi yang diambil sebanyak 40 SKS atau setara 2 kelas. Waw… Secara umum aja wajib 145 SKS itu sudah kewalahan. Nah kalau ditambah?

SKS di sini maknanya lebih luas, tidak hanya berbentuk belajar di kelas, tapi juga termasuk magang, pertukaran pelajar, wirausaha, riset, studi independen, maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil.

Nah kalau begitu terus fungsi dari program studi atau jurusan itu apa sih?

Ini justru tidak memerdekakan manusia, namun menjerumuskan. Coba pikir deh, waktu yang seharusnya memang fokus untuk belajar mendalami, lah belum selesai kok disuruh ke lapangan. Ya bingung dong.

Mahasiswa KKN aja sering bingung mau ngapain kan? Padahal itu ditempuh di semester menjelang akhir. Apalagi kalau belum-belum sudah diberi pilihan untuk mengajar dan mengabdi kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan