Tentang Bonus Demografi dan Pengaruhnya di Dunia Pendidikan

Sri Moertiningsih Adioetomo, yakni seorang Guru Besar Demografi Universitas Indonesia memaparkan bahwa di tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami kondisi yang disebut sebagai bonus demografi.

Konon, bonus demografi tersebut mengakibatkan ledakan penduduk usia kerja yang dinilai sebagai peluang dalam memicu pertumbuhan ekonomi bangsa.

Searah dari kemajuan tersebut, secara otomatis akan terjadi pengurangan jumlah anak yang meningkatkan pendapatan perkapita, sementara besarnya jumlah penduduk usia kerja akan mendorong meningkatkan pendapatan perkapita apabila ekonomi bergerak maju sejalan dengan penambahan tenaga kerja produktif.

Dalam banyak kasus, sebuah negara menjadi kaya dan makmur karena berhasil memanafaatkan jendela peluang bonus demografi ini.

Di Indonesia pada tahun 1971 setiap 86 anak ditanggung 100 pekerja, pada tahun 2010 rata-rata 51 anak ditanggung oleh 100 pekerja.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, maka pada tahun 2020-2030 akan membuka jendela peluang saat angka rasio ketergantungan mencapai titik terendah, yakni 44 anak ditanggung oleh 100 pekerja.

Berdasarkan sensus penduduk BPJS 2010 angka rasio ketergantungan adalah 51.3% ini tentu informasi yang menggembirakan sebab jika dibandingkan dengan negara lain, misalnya Afrika bonus demografi ini didapatkan di tahun 2030-2045

Setiap negara mengalami bonus demografi tersebut, negara-negara maju sudah mengalaminya seperti Jepang di Eropa Barat.

Sebenarnya, untuk meraih keuntungan dari bonus demografi ini, sebagaimana masih mengutip pendapat Sri Moertiningsih Adioetomo, sekurang-kurangnya ada empat hal yang harus dipenuhi.

Pertama, penduduk usia muda meledak jumlahnya itu mesti mempunyai pekerjaan produktif.

Kedua, tabungan rumah tangga bisa diinvestasikan untuk menciptakan lapangan kerja yang produktif.

Ketiga, ada investasi untuk meningkatkan modal manusia, supaya dapat memanfaatkan momentum jendela peluang yang akan datang.

Keempat, menciptakan lingkungan yang memungkinkan kaum perempuan dapat masuk pasar kerja.

Berdasarkan data survei angkatan kerja nasional (sakernas) 2010 yang menunjukkan bahwa sampai pada tahun 2015 profil angkatan kerja Indonesia masih didominasi pekerja berpendidikan sekolah dasar (SD).

Separuh dari 40 juta orang angkatan kerja muda (usia 15-29 tahun) yang masuk dalam pasar kerja ternyata berpendidikan tanpa keterampilan.

Kondisi ini tentu saja menjadi tugas berat, bagaimana Indonesia mendapatkan peningkatan indeks pembangunan manusia dan kualitas pendidikannya.

Meskipun, negara wajib mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN, tetapi keberhasilannya bergantung pada ketepatan dan kemampuan mereka yang terlibat dalam mengelola anggaran tersebut.

Dari penjelasan di atas, bisa kita maknai bahwa ternyata di dunia kerja sebagian besar tidak berdasarkan pendidikan yang matang, dan tidak ada keterampilan yang spesifik. Asal kerja dan mendapatkan uang.

Meskipun Indonesia mendapatkan urutan ke-38 dari 152 negara yang berada dalam daftar negara paling bersaing, toh tetap kalah saing juga dengan Malysia dan Singapura yang nangkring di posisi 24 dan 2 untuk Singapura.

Tentu ini menjadi fokus pembahasan yang menarik, sebab terjadinya bonus demografi jika tidak diiringi dengan kwalitas pendidikan yang mumpuni, maka perkembangan hanya menjadi isapan jempol semata.

Tinggalkan Balasan