Memangnya Berapa Sih Honor Dosen Pembimbing?

Hehehe. Nulis judul ini saya sambil senyum-senyum sendiri. Soalnya ini pembahasan sensitif.

Beberapa hari yang lalu saya melakukan mini riset, tentang berapa sih honor dosen pembimbing?

Ini gara-gara postingan sebelumnya, saya bahas tentang tradisi memberi hadiah kepada dosen pembimbing itu, sudah termasuk gratifikasi.

Menurut pengawasan saya di twitter, mahasiswa-mahasiswa pada mengeluh tentang tradisi tersebut, mulai dari bawa kue, nasi kotak, hingga pernak-pernik lainnya yang memberatkan mahasiswa.

Sebelum saya lanjutkan, saya cerita dikit ya tentang kejadian di lingkungan kampus saya mengajar.

Di fakultas sebelah (tak perlu saya sebutkan), saya mengunjungi salah satu kaprodinya, sampai di mejanya saya kaget, karena ada banyak buku-buku baru.

Sekitar 5-7 buku baru. Kalau ditaksir harganya kira-kira 70.000 an, karena memang lumayan tebal, sekaligus penerbit yang harganya memang mahal.

“Wah, kok tumben banyak buku baru di meja, Pak?” Tanya saya.

“Iya, dari mahasiswa-mahasiswa yang kemaren sudah sidang skripsi” Katanya.

“Lho, wajib ya ngasih ke pembimbing?” Tanya saya lebih lanjut.

“Saya suruh saja, buku-buku yang berkaitan tentang prodi untuk kenang-kenangan” Tegasnya.

“Per mahasiswa berapa buku, Pak?” Ia menjawab 2 buku.

Waww, kan?

Saya kira ini tidak terjadi di kampus tempat saya mengajar aja, di beberapa kampus banyak seperti demikian.

Honor Dosen Pembimbing dan Mekanismenya

Mini riset yang saya lakukan ini tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya variabel kebenaran ya, jadi ini sifatnya kasuistik.

Dalam riset ini, saya menanyakan beberapa hal:

  1. Ada tidak SK rektor yang mengatur honor pembimbing skripsi, penguji, ketua dan sekretaris sidang?
  2. Apakah ada pembayaran dari mahasiswa terkait bimbingan skripsi di luar SPP dan SKS?
  3. Berapa sih honor untuk pembimbing? Sistemnya perbimbingan atau perjudul?

Dari tiga pertanyaan tersebut, saya kemudian kirim-kirim chat WhatsApp ke beberapa kontak dosen di gawai.

Dari 10 kontak yang saya kirim pesan, hanya 7 yang, secara terbuka menjawabnya.

Semua responden mengatakan bahwa tentang dosen pembimbing dan mekanisme persidangan skripsi itu, semua sudah ada aturannya, mulai dari nominal honor hingga konsumsinya.

Biaya pendaftaran sidang skripsi kisaran 800.000 hingga 1.000.000 rupiah. Dari biaya tersebut, peruntukannya adalah:

  1. Honor dosen pembimbing (1 dan 2)
  2. Ketua Sidang
  3. Sekretaris Sidang
  4. Konsultan (Anggota sidang yang ditunjuk untuk mengawal mahasiswa ketika revisi hasil sidang skripsi)
  5. Konsumsi Sidang
  6. Sisanya biasanya masuk kas fakultas.

Dari ke enam item di atas, perbedaannya tidak terlalu jauh dengan kampus-kampus yang lain.

Perbedaan Nominal Kampus PTS dan PTS

Kampus PTS dan PTN sesuai yang disampaikan responden, hasilnya sangat jauh berbede secara nominal. Kira-kira selisihnya bisa separuh.

  1. Di kampus PTS, honor dosen pembimbing 1 di kisaran 100.000 – 150.000, sedangkan kampus PTN hanya 25.000 – 45.000
  2. Di kampus PTS, honor ketua sidang dan sekretaris di kisaran 50.000 – 75.000, sedangkan di PTN tidak ada.
  3. Di Kampus PTS, honor konsultan di kisaran 75.000 – 100.000, sedangkan di PTN tidak ada.

Gimana? Beda, kan?

Asumsi saya, dan ini juga saya konfirmasikan ke dosen PTN bahwa honor menguji skripsi sudah termasuk gaji bulanan, dan itu sudah mencakup kewajiban dosen sebagai pengajar di PT.

Ya, kita tahu kan, kalau di PTN itu gajinya lebih besar dibandingkan gaji di PTS, apalagi kalau sudah PNS, tunjangannya besar-besar. Belum ditambah lagi sertifikasinya. hmmm

Kapan-kapan deh buat survey lagi tentang gaji dosen di PTS. Hehehe

Namun, dalam hal honor dosen pembimbing ini lebih besar honornya sebab gaji dosen di PTS lebih sedikit, bahkan saya berani mengatakan tidak lebih dari separuh gaji di PTN, tapi ini masih asumsi ya.

Oke, segitu aja teman-teman.

Terakhir, kita itu masuk sekolah dengan biaya yang mahal, bahkan mahal banget, tapi kenapa kok gajinya guru/dosen itu sedikit-sedikit ya? Duitnya kemana sih?

Bantu jawab di kolom komentar ya 🙂

Tinggalkan Balasan