Kisah Dua Barista: Novel Tentang Poligami yang Patut Dibaca

“Melalui Novel Dua Barista, kita semua akan diajak menyelami dunia batin sebuah keluarga praktisi poligami yang diperankan oleh Ning Mazarina, Gus Ahvash, dan Meysaroh”

Dibandingkan teman-teman lain, saya termasuk yang telat mengetahui tentang Dua Barista. Saat itu, dalam hati saya membayangkan, Dua Barista akan bercerita tentang dunia peracik kopi (barista) sebuah cafe yang akan berlomba membuat sebuah racikan kopi istimewa untuk memperebutkan hati seorang perempuan.

Makanya, jujur saat itu saya tidak terlalu tertarik, karna dalam benak saya saat itu, cerita akan hanya sebatas tentang memperebutkan wanita dengan kopi.

Kemudian saat seorang teman yg sudah membaca cerbung tersebut bercerita, bahwa Dua Barista bercerita tentang poligami, saya langsung tertarik. Bukan karena apa-apa, tapi karena memang sangat jarang penulis novel yang berani mengangkat tema yang tabu tersebut dalam sebuah novel.

Saya jadi teringat pada sebuah tantangan yang waktu itu diberikan seorang dosen peneliti poligami kepada penulis Novel Hati Suhita, Ning Khilma Anis, saat acara bedah novel. Dosen tersebut bahkan langsung menawarkan hasil disertasinya untuk dijadikan sebagai bahan dalam novel.

Ning Khilma jelas berfikir sekian kali untuk menjawab tantangan tersebut, karena memang bukan passion beliau disitu.

Kembali ke Dua Barista. Akhirnya, saya langsung mencari link cerbung Dua Barista pada akun penulisnya, Mbak Najhaty Sharma. Saat itu Dua Barista sudah sampai episode Ke-7 kalau tidak salah.

Saya langsung baca mulai awal, dan langsung tidak bisa berhenti dan tidak sabar menanti episode selanjutnya. Barulah saya ‘ngeh’ kalau ini ceritanya bagus dan sangat jauh dari perkiraan awal saya dulu.

Saya berdecak kagum terhadap kepiawaian penulis yang begitu apik menuliskan sebuah cerita tentang hal yang sangat tabu di masyarakat. Melalui Dua Barista, kita semua akan diajak menyelami dunia batin sebuah keluarga praktisi poligami yang diperankan oleh Ning Mazarina, Gus Ahvash, dan Meysaroh.

Batin kita akan ikut terkoyak-koyak saat diajak menyelami peran Ning Mazarina sebagai istri pertama, yang usai menjalani operasi pengangkatan rahim dan divonis tidak bisa memberikan keturunan, harus merelakan suaminya berpoligami demi memberikan keturunan sebagai penerus pesantren.

Apalagi saat ikut merasai kecemburuan Ning Maza saat mendapati suaminya sedang memasak berdua dengan istri keduanya, di saat acara pembukaan warung makan yg telah dirintis Ning Maza dan suaminya.

Hati perempuan mana yang tidak teriris-iris mendapati suaminya sedang bermesraan dg perempuan lain, meskipun itu adalah perempuan halalnya juga. Istrinya juga. Kita juga akan diajak untuk menyeka air mata lagi di saat Ning Maza harus melewati hari-hari saat Gus Ahvash harus menemani istri keduanya yang akan melahirkan di desa kelahirannya Meysaroh.

Batin kita juga akan diguncang kembali di saat fitnah sedang mendera Ning Maza, hingga ia harus pulang ke rumah orangtuanya tanpa suami, demi untuk menenangkan diri.

Hal lain yang berhasil menyita perhatian saya adalah ‘gombalan’ atau rayuan yang sangat berkelas yang diutarakan oleh Ning Maza dan Gus Ahvash.

Kenapa saya katakan berkelas?

Karena gombalannya pake ilmu nahwu, dimana tidak semua orang awam/orang yang belum pernah mengaji nahwu, pasti akan bingung dan mengernyitkan dahi karena tidak paham. Namun bagi yang paham, pasti akan tersenyum dan berkata “iso-iso wae, nahwu sampe digawe gombalan saat merayu kekasih”, hehehe.

Seperti ini cuplikan ‘gombalan’ nahwunya:

“Nggeh mboten tho Ning… Aku kan sudah menanggalkan atribut harokatku menjadi jer, karena sudah menjadi Mudhof ilaih. Dan menyatu tak terpisahkan lagi!” …..

“Tapi mas, Sayangnya dalam susunan idhofah, mudhof ilaih itu bisa ganda dan punya dua kedudukan Mas! Sebagai mudhof ilaih dan mudhof yang kedua. Tidak setia pada satu pasangan” ……

“Jangan tabi’ lil matbu’. Semuanya sama, tabi’ nya bisa banyak. Matbu’ nya juga cuma satu. Aih, ternyata poligami sudah ada dalam dunia gramatika!”

Mas Ahvash tertawa lebar. “Jangan ngambek sama Imam Sibawaih lo!” [Halaman: 329]

Jalan cerita Dua Barista ini unik, mengagetkan dan tidak bisa ditebak. Apalagi pas memasuki bagian akhir cerita. Penulis berhasil menyajikan ending di luar dugaan. Patut sekali dibaca, agar pikiran kita semakin terbuka terhadap wacana poligami.

Selain itu, Dua Barista juga mengajarkan kita pada banyak hal tentang bagaimana merintis sekaligus mengelola bisnis berbasis pesantren, seperti fashion, kopi, warung makan, sampai homestay. Sebuah usaha khas pesantren demi menciptakan kemandirian ekonomi.

Jika ada pertanyaan, siapa tokoh yang paling berkesan dalam novel ini? Maka saya akan menjawab, Ning Mazarina dan Kang Badrun.

Lah, kok bisa Kang Badrun? Hehehe, tenang tenang, akan saya jelaskan.

Jika Ning Mazarina, sudah pasti ya kenapa sangat berkesan. Ketegarannya menghadapi semua masalah–mulai dari operasi pengangkatan rahim, kemampuannya dalam desainer baju, sikap ramahnya pada ‘madu’nya, pergaulannya ke semua kalangan yang sangat luwes, keilmuannya yang sangat mendalam…

…kemampuannya menjawab pertanyaan masyarakat tentang agama dengan sangat baik dan lengkap–tanpa terkesan menggurui, sampai pada apiknya sikap yang dia tunjukkan pada saat ia difitnah oleh masyarakat.

Ia tetap mampu berdiri tegak sebagai perempuan terhormat untuk melibas pandangan negatif masyarakat yang selama ini melekat padanya, sehingga kemudian pandangan negatif itu berbalik 180 derajat menjadi simpati dan penghormatan yang luar biasa padanya.

Nah, di bagian akhir novel, saya justru sangat simpatik dengan sikap wibawa dan terhormat yang ditunjukkan oleh Kang Badrun. Kang Badrun ini kan sebagai khadamnya Gus Ahvash, lalu berkat kedalaman ilmunya, sikapnya yang sangat sopan dan juga pengabdiannya yang totalitas pada keluarga Gusnya.

Ia sampai didaulat menjadi badal (pengganti) dari Gus Ahvash di saat ada undangan ceramah datang bersamaan. Apalagi saat dia mampu membuktikan pada Pak Andy–yang pernah menolak niat baiknya untuk meminang putrinya dan memandang sebelah mata dirinya karna ‘hanya’ mengenyam pendidikan di Pesantren dan bukan sarjana.

Kang Badrun membuktikan bahwa santri itu juga bisa berpenghasilan tinggi, bisa berwirausaha secara mandiri, dan juga tetap dapat menjadi terhormat dan berilmu meski bukan ‘sarjana’.

Kang Badrun tetap dapat berdiri dengan penuh hormat, meski ia pernah diremehkan. Dan yang paling membuat saya simpatik adalah pada akhirnya Kang Badrun berjodoh dengan perempuan–yang mungkin bagi sebagian orang memiliki kekurangan, tapi tetap diterimanya dengan lapang dada dan ikhlas.

Karena baginya, nilai kebaikan dan kecantikan seorang perempuan bukanlah pada fisiknya saja, tapi lebih pada inner beauty perempuan itu. Sifat dan nilai yang terinternalisasi dalam diri seorang perempuanlah yang menjadi utama baginya dalam memilih istri.

Jadi bukan fokus pada kekurangan yang dimiliki perempuan itu. Nah, itulah yang menurut saya perlu diacungi jempol dan patut ditiru oleh seorang laki-laki saat ‘memandang’ seorang perempuan.

Terakhir, pesan yang dapat saya tangkap dari Novel Dua Barista adalah: jangan sekali-kali bermain-main dengan poligami, jika memang tidak ‘kuat’ baik secara materi maupun mental. Jangan main-main! Juga jangan hanya memandang poligami hanya dari sisi enaknya saja, yakni memiliki istri banyak.

Oh, jangan. Karena selain membutuhkan kesiapan mental dan materi yang cukup, poligami juga menuntut sikap adil seadil-adilnya dari seorang laki-laki sebagai pelaku, terhadap istri-istrinya.

Dan itu sangat sangat tidak mudah untuk dipraktikkan! Wa in khiftum an laa ta’diluu fa waahidatan [dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah satu orang saja], begitulah ayat al-Qur’an mengingatkan kita.

Satu lagi, novel ini membuka mata kita, bahwa poligami bukanlah satu-satunya solusi terbaik untuk mendapatkan keturunan, termasuk di kalangan Pesantren.

Novel ini dapat mengubah stigma yang ada selama ini bahwa penerus Pesantren–terutama salaf, tidaklah harus dari keturunan biologis dari kiai itu sendiri. Hal ini dapat dicontoh pada sosok alm. KH. Sahal Mahfudz. Karena pesantren bukanlah kerajaan.

Sekian.

Mau ikutan PO novel Dua Barista? Silahkan klik bit.ly/duabarista atau WA +62 857 04449009

Dwi Khoirotun Nisa

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Jawa Timur

Tinggalkan Balasan