Mahasiswa Magang 3 Semester? Apakah Bisa Terukur?

Lagi rame Pak Menteri @NadimMakarim mengeluarkan kebijakan kalau mahasiswa mau magang 3 semester, kampus tidak boleh melarang.

Termasuk magang2 di Startup. Bagaimana pendapat saya?

Saya setuju magang itu bisa bermanfaat tapi…

Selama tiga semester itu mahasiswa di kampus belajar 12 mata kuliah dengan silabus dan learning outcomes yang jelas. Magang juga harus setara dengan ini prosesnya.

Harus jelas skills apa saja yang didapatkan nanti ketika magang. Ini harus disepakati di awal sebelum mahasiswa mulai magang.

Mahasiswa magang itu niatnya belajar, beda dengan intern dari mahasiswa yang sudah lulus. Jadi mentornya harus jelas di tempat kerja siapa.

Yakin mentornya lebih baik dan lebih sabar dari para dosen 12 mata kuliah di kampus?

Harusnya lebih bagus dong ya para mentor di tempat magang mah. Iya kan?

Para mentor juga harus memberikan penilaian tiap semester, dosen aja kan memberikan nilai setidaknya UTS dan UAS. Skillsnya bagaimana, apakah meningkat? Apakah lebih baik dari semester sebelumnya? Jenis pekerjaannya lebih beragam di semester berikutnya? dan lain-lain.

Jangan sampai mahasiswa magang di kantornya selama 3 semester hanya mengerjakan hal yang sama. Mentornya sibuk dan tidak peduli.

Di Startup biasanya karyawannya sedikit, yakin mereka masih mau mentorin mahasiswa magang dengan baik? Perlu effort dan waktu yang banyak lho.

Mencari tempat magang yg baik bukan perkara mudah, apalagi di daerah. Kalaupun ada mereka paling mau terima segelintir aja karena kekurangan mentor. Padahal kita punya mahasiswa ratusan. Makanya bener sih Pak Menteri bilang itu hak bukan kewajiban.

Banyak mahasiswa ketika magang malah gabut, kebanyakan waktu nganggurnya, padahal kalau mereka kuliah, tugas bisa bejibun sampai harus begadang apalagi semester 5-7.

Nah padahal universitas harus memastikan ketika mahasiswa lulus, capaian pembelajaran sudah tercapai semua.

Mahasiswa magang 3 semester, setara 9-12 mata kuliah. Bagaimana memastikan prosesnya baik dan terukur? Ini yang harus dipikirkan.

Jangan-jangan mahasiswa magang di perusahaan Bapaknya/sodaranya terus seringnya liburan aja selama 3 semester itu

Bayangkan, kamu kerja nih udah pusing ngurusin kerjaan sendiri. Harus juga ngajarin mahasiswa magang, mentorin, terus ngisi formulir evaluasi dari kampus yang bejibun dan detail, gak banyak yang mau.

Apalagi tiap tahun mahasiswa magangnya ganti lagi. Ngajarin lagi dari awal.

Saya berharap perusahaan yang menerima mahasiswa magang tidak memperlakukannya sama dengan karyawan magang. Mahasiswa yg magang itu masuk dalam proses pembelajaran.

Opportunity cost mereka besar, meninggalkan ilmu 12 mata kuliah di kampus.

Pikirkan baik-baik deh…

Ersa Tri Wahyuni

Acounting Lecturer at FEB Unpad. Member of Indonesian Accounting Standard Board (DSAK-IAI)

Tinggalkan Balasan