Mendidik Agar Pintar atau Bahagia?

Sasaran Pendidikan, berbicara soal ini kita akan dibenturkan dengan soal yang tak bisa dipungkiri, mendidik tujuannya pintar atau bahagia?

Faktanya, tujuan kita sering mengarah pada kepintaran. Itulah pendidikan kita selama ini menuntut pada indeks hasil akhir yang memuaskan yang sarat akan angka-angka.

Tentu ini bukan kesalahan yang utama, namun mengesampingkan aspek-aspek selain angka-angka formal juga merupakan bentuk kesalahan yang fatal akibatnya. Apa misalnya?

Pelajar hanya mengejar nilai, yang penting lulus dan tidak mengulang. Dari tujuan itu, juga akan memunculkan persoalan yang krusial juga, yakni menghalalkan segala cara agar mendapatkan nilai tertinggi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa sih konkretnya sasaran pendidikan itu?

Haidar Bagir menjelaskan pertama adalah mengembangkan manusia-manusia yang mampu bahagia, kedua memiliki kreatifitas dan daya imajinatif yang mampu melejitkan karya-karya.

Ketiga memiliki berbagai kecerdasan yang diperlukannya untuk dapat hidup sebaik mungkin. Keempat, memiliki karakter atau moralitas yang luhur.

Keempat hal di atas memang seperti sulis dilakukan ketika melihat sistem pendidikan kita yang seperti sekarang ini, namun setidaknya ini bisa menjadi ruang pemahaman bersama bahwa sasaran pendidikan itu tidak hanya yang bersifat kognitif saja.

Tetapi juga yang bersifat spiritual dan esensialnya.

Bahagia atau Pintar?

Setiap orang, jika menjumpai pertanyaan di atas, pasti jawabannya adalah bahagia. Lalu akan bertanya kembali, Apakah anak pintar tidak tentu bahagia?

Jawabannya adalah iya. Anak pintar tidak menentukan kebahagiaannya.

Jangankan bahagia, kesuksesanpun sering kali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan seseorang.

Sebuah penelitian menarik di Harvard University atas mahasiswa kedokteran, hukum, bisnis, dan keguruan menunjukkan bahwa kesuksesan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepintaran – sebagaimana yang diukur dengan IQ.

Lalu apa kalau tidak kepintaran atau kecerdasan?

Hanya anak yang memiliki karakter-karakter tertentu, meski tidak pintar, punya peluang lebih besar untuk bahagia, dan tentunya sukses juga.

Clifton dan Rath sebagai seorang pakar emosi, percaya bahwa untuk menjadikan anak bahagia adalah beberapa karakter yang mampu menghasilkan emosi positif, dan itu dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup dan untuk bahagia.

Namun, diharapkan tidak salah paham juga. Jika dibarengi dengan kepemilikan karakter-karakter tertentu, kepintaran akan membantu kebahagiaan.

Orang pintar yang memiliki karakter tertentu itu masih punya peluang bahagia lebih besar dibandingkan yang kurang pintar.

Sudah banyak buktinya bahwa kebahagiaan itu tidak berbanding lurus dengan kecerdasan saja, tetapi juga persoalan seni mengolah diri, termasuk emosi dan perasaan.

Untuk memudahkan kita dalam memahami tentang kebahagiaan,

Berikut ini adalah karakter-karakter kebahagiaan yang bisa mengantarkan untuk kesuksessan.

Karakter-karakter Kebahagiaan

Menurut Daniel Goleman, karakter-karakter tersebut adalah

  1. Self Control: Kemampuan untuk mengelola emosi dan impuls yang mengganggu secara efektif.
  2. Trustworthiness: Kejujuran dan Integritas.
  3. Conscientiousness: Keteguhan dan Tanggung Jawab
  4. Adaptability: Flektibilitas dalam menangani perubahan
  5. Innovation: Keterbukaan terhadap ide-ide, pendekatan dan informasi baru.

Dari kelima karakter yang mendukung bisa membahagiakan seseorang, maka seharusnya itulah yang dikembangkan di dunia pendidikan.

Jadi, kurikulum dan cara belajar-mengajar yang monoton dan searah, diubah dengan cara yang lebih komunikatif, menghargai pendapat siswa dan memberikan pemahaman-pemahaman yang bersifat reflektif.

Entah diberikan pemahaman tentang cara memecahkan persoalan, atau mempunyai kesadaran tentang pentingnya sebuah ide dan gagasan itu diungkapkan.

Selain hal di atas, ada pendapat dari ilmua psikologi positif, sebuah aliran psikologi yang percaya bahwa semua manusia berbakat/berpotensi baik sekaligus bahagia.

Karakter-karakter itu meliputi:

  1. Wisdom and knowledge; kreatifitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, cinta belajar, kejernihan perspektif, dan inovatif.
  2. Courage: Keberanian, ketekunan, integritas, vitalitas
  3. Humanity: Cinta, kebaikan, kecerdasan sosial.
  4. Temperance; Rasa Maaf dan kemurahan hati, kerendahan hati, kebijaksanaan, kontrol diri.
  5. Justice: Kewargaan, keadilan, kepemimpinan.
  6. Transcendence; Apresiasi terhadap keindahan dan keluhuran, rasa syukur, harapan, humor dan spiritualitas.

Apa yang dapat kita lakukan dari mengetahui beberapa karakteristik di atas yang bermacam-macam itu?

Membuat Prioritas

Kembali pada pertanyaan di judul artikel ini, kita seharusnya bisa memberikan prioritas mana yang lebih penting antara mencerdaskan anak atau membahagiakan anak?

Sebaiknya mendorong anak agar mempunyai karakter-karakter kebahagiaan di atas adalah jauh lebih penting daripada membuat mereka agar cerdas dan pintar.

Tentunya ini bukan cara yang mudah dan sederhana.

Dibutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran agar karakter-karakter di atas bisa menjadi sebuah habit.

Untuk membesarkan anak berkarakater bahagia, kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka berekspresi, serta membuat kesalahan-kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya untuk aktif dalam berorganisasi, untuk punya waktu menjalani hobinya, untuk belajar agama dan spiritualitasnya, untuk dilibatkan dalam aktifitas-aktifitas menolong orang lain.

Dan untuk dapat dibawa ke tempat orang yang kurang beruntung agar punya rasa syukur, dan untuk belajar seni serta menapresiasi keindahan.

Sulit bukan main tentunya. Namun jangan khawatir, karena kabar baiknya adalah, bahwa emosi positif itu bisa menular.

Oleh karena itu memiliki orang tua, anggota keluarga, teman, tetangga, guru, dan siapa saja yang punya emosi positif dapat membantu siswa untuk menjadi positif pula.

Sebaliknya, emosi negatif itu juga bisa menular. Sederhana saja, kalau kita melihat orang sedang cemberut dan menekuk wajah, otomatis tanggapan kita juga akan mengikutinya.

Minimal, di dalam hati kita menggerutu dan merasa terganggu, sehingga memunculkan tindakan yang sama.

Namun, jangan khawatir …

Bahagia Lebih utama Daripada Pintar

Kabar yang lebih baik lagi adalah, menurut Clifton dan Rath, 99 dari 100 orang ternyata lebih suka berada di sekitar orang positif. Jadi pada hakikatnya kita itu suka dengan hal-hal yang bersifat positif daripada negatif.

Oleh karena itu, marilah kita mengubah paradigma pendidikan dalam mendidik, bahwa memfokuskan pendidikan agar lebih bahagia itu lebih utama daripada sekadar untuk pintar.

Sebagai orang tua, selayaknya juga kita harus selalu memfasilitasi suasana yang nyaman bagi anak-anak dan selalu memelihara harga diri mereka…

… dan selalu memberi ruang yang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk mencoba dan salah.

Hanya dengan semua itulah, kreatifitas bisa lahir, dan kita bisa berharap banyak kebahagiaan hidup menanti anak-anak.

Sumber Bacaan:
Haidar Bagir, Memulihkan sekolah Memulihkan Manusia; Meluruskan kembali Falsafah Pendidikan Kita, Mizan 2019

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: