Nasib Perempuan Di Fakultas FMIPA Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Seneng banget akhirnya banyak yang mau buka suara soal kultur tidak adil pada perempuan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang sudah mendarah daging dan tidak ada obatnya.

Ada banyak banget cerita soal bagaimana nasib perempuan dipandang sebelah mata dengan dalil agama.

Gue sih nggak masalah kalau prinsip individu, tapi ini kan Universitas Negeri yang orangnya multi-agama, ras, dan keyakinan.

Kalau prinsip agama diterapkan di komunitas Rohis aja sih bebas yaa …

Jadi begini ceritanya, Gue masuk UNJ FMIPA jurusan Kimia Murni angkatan tahun 2008. Sebagai anak SMA yang baru masuk kuliah pasti idealis banget dan pengen meraih semua hal.

Ketika awal OSPEK gue mengajukan diri jadi ketua angkatan. Waktu itu yang jadi kandidat ada 2 orang cowok dan 2 orang cewek …

Untuk jadi ketua angkatan, masing-masing kandidat harus nyiapin visi misi singkat dan orasi di depan anak-anak seangkatan.

Gue menyiapkan sebaik-baiknya karena tau pengalaman organisasi itu diperluin jadi gue pengen menang.

Maap, gue anaknya emang udah ambisius sejak SMP wkwk …

Terus di OSPEK hari ke berapa gitu gue lupa, kami semua dikumpulkan seangkatan untuk mendengarkan orasi masing-masing calon ketua angkatan FMIPA UNJ Setelah selesai 4 orang orasi, kakak tingkat nyuruh kami menentukan pemenang dengan cara voting.

Tapi ada yang aneh di cara votingnya…

Pas voting, satu angkatan disuruh TUTUP MATA. Terus masing-masing kandidat disebut namanya. Kalo kita pilih orang tersebut, kita harus angkat tangan, nanti voting terbanyak akan dinobatkan jadi ketua angkatan FMIPA UNJ tahun 2008.

Voting dilakukan dan pemenangnya adalah cowok kandidat no 1

Gue pikir, Oh ya udah lah bukan rejeki dan gue bisa cari organisasi lain. Mungkin bisa ikut BEM atau apalah.

Setelah kejadian tersebut, hari-hari berjalan kayak biasa dan gue udah lupa voting itu sampai akhirnya di semester 4, temen sekelas gue (yang akhirnya jadi sahabat) bilang suatu hal yang aneh …

Dia bilang “Din, inget nggak pas voting ketua angkatan? Kan kita disuruh merem, tapi gue merasa itu hal aneh jadi gue ngintip dikit dan liat hasil voting masing2 kandidat.” Katanya.

“Sumpah demi tuhan Yesus, voting lo lebih banyak daripada anak-anak lain. Tapi kenapa lo ga menang yah?” Akunya.

DEG di dalam dada.

Usut punya usut, gue tahu kenapa gue nggak menang.

Simply karena gue adalah perempuan.

Perempuan kan nggak boleh jadi ketua. Jadi kagak lolos deh …

Segitu nggak memihaknya FMIPA UNJ sama perempuan Itu doang? Gak masih banyak cerita yang nggak masuk logika di UNJ.

Di FMIPA UNJ perempuan nggak boleh stay di kampus lebih dari jam 6 sore.

Kalo masih ada perempuan jam 6 sore di kampus, pasti diusir …

Apapun alasannya, mau lagi nugas atau apa.

Katanya nggak baik perempuan pulang telat. Kalau prinsip individu bebas ya, tapi ini jadi peraturan angkatan. Ngeselin nggak sih?

Ada lagi yang lebih kocak Jadi kan di tahun pertama gue gabung di BEM jurusan. Dan ada semacam kaderisasi yang nginep di luar kota terus ada semacam outbond gitu Ternyata outbond-nya DIPISAH ANTARA LAKI DAN PEREMPUAN

Jujur pertama tau hal ini gue kaget

Jadi gue dan para akhwat lainnya outbond sama sesama perempuan. Yang laki-laki juga outbond di waktu yang bersamaan tapi beda beberapa meter gitu Nah pas outbond ada perempuan yang jatoh keguling ke area laki Dan LAKINYA GA MAU BANTUIN.

Takut mapah karena bukan mahram

Ngampus di FMIPA UNJ emang agak ajaib karena basis agama Islamnya kuat. Tapi kan gue ikut organisasi kampus (anak UNJ pasti tau gedung G) Nah kalo di fakultas lain setahu gue masih santai.

Baju dan kultur lebih membaur

Even Fakultas Teknik pas tahun gue ngampus juga masih santai …

Ditulis dan disunting tanpa mengubah subtansi dari twitter @dinikopi.

Dins

Living a dream job: creating creative content for brands. Ngetweet soal K-Pop, skincare, & review. Stan Taylor Swift, LOONA, NCT, & TXT

Tinggalkan Balasan