Penggunaan “Di” dan Kesalahan Fatal Di mana dan Yang Mana

Sebagai dosen di Perguruan Tinggi Swasta, saya sering banget, bahkan terlampau sering menjumpai kesalahan di artikel mahasiswa yang fatal dalam penggunaan “di” antara dipisah atau disambung dan kesalahan fatal tentang penggunaan kata di mana dan yang mana.

Rasa-rasanya, kesalahan itu seperti kesalahan wajib, pasalnya setiap membaca artikel mahasiswa pasti ada saja kesalahan tersebut. Saya sering jengkel. Ini yang disalahkan harusnya siapa sih?

Rasanya itu gregetennnn… Oo o aku geregetan apa yang harus kulakukan …

Lha gimana nggak geregetan. Bahasa Indonesia ini kan sudah diajarkan mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Bahkan dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran yang harus diUN-kan.

Hadududuh…

Coba bantu jawab di kolom komentar ya. Apa yang salah? 🙁

Etapi, konon katanya, sebagaimana yang ditulis di artikel Mojok 2018 yang lalu, penggunaan di pada Ejaan Lama itu disambung semua.

Mula-mulanya adalah Ejaan Van Ophuijsen (sejak 1901), yang kemudian diikuti dengan Ejaan Suwandi—diambil dari nama Menteri Kependidikan dan Kebudayaan saat itu—sejak 17 Maret 1947.

Ejaan Suwandi ini kemudian disempurnakan pada tahun 1972 lalu berganti menjadi EYD singkatan dari Ejaan Yang Disempurnakan. Artikel ini ditulis oleh salah satu redaktur Mojok, Aprilia Kumala.

Selanjutnya, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sekarang sudah diganti menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berdasarkan Permendikbud 50/2015.

Bagi yang ingin mengakses PUEBI secara daring bisa klik di situsnya PUEBI daring.

Oke langsung ke pembahasan ya.

Di itu Jenis Kata Apa, sih? Bagaimana Penggunaannya?

Preposisi atau kata depan adalah sebuah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat, biasa diikuti nomina dan pronomina.

Macam-macam preposisi antara lain adalah kata di, ke, dan dari.

Penggunaan Di

Kesalahan umum yang terjadi, misalnya menulis dimana, ditempat, dirumah, disana, disini, ditoko, dikampus, dikos, diwarung, dll.

Seharusnya, preposisi di pada kata di atas harus dipisah. Sehingga menjadi di mana, di tempat, di rumah, di sana, di sini, di toko, di kakmpus, di kos, di warung, dll.

Kenapa demikian? Sebab kata di dijadikan sebagai preposisi yang menunjukkan tempat. Jika di menunjukkan tempat dan waktu, maka di-nya harus dipisah.

Kapan kata di bisa disambung?

Kata di bisa disambung dengan kata setelahnya, ketika kata di diikuti oleh kata kerja. Misalnya, direbut, dikejar, dicinta, disayangi, diselingkuhi, ditikung, dll.

Intinya, di kalau diikuti kata kerjadi jadinya disambung, kalau di diikuti kata tempat atau waktu jadinya di pisah.

Penggunaan Ke

Penggunaan ke harus dipisah dengan kata selanjutnya, biasanya kata keterangan. Misalnya ke rumah, ke kos, ke warung, ke kampus, ke tempat pacar, ke mana-mana.

Hal ini tidak untuk imbuhan ke-an. Misalnya pada kalimat

  • Malam minggu aku kesepian karena tidak punya pacar
  • Kesayanganku sudah nikah dengan sahabatku

Imbuhan ke-an di atas semuanya disambung.

Penggunaan Dari

Kata depan dari, semuanya dipisah kecuali pada kata daripada, harus disambung. Ini kesalahan fatal yang lazim ditemukan di berbagai tulisan mahasiswa saya.

Ingat ya, hanya kata daripada yang disambung, selain itu pisah.

PISAHHHHH!!!

Kesalahan Fatal Di mana dan Yang Mana

Selanjutnya adalah kesalahan fatal menggunakan kata sambung di mana dan yang mana. Misalnya:

  1. Seorang lelaki, di mana aku sangat mencintainya telah pergi bersama orang lain.
  2. Sebuah tempat di mana aku sering bermain bersamanya, kini tinggal kenangan.
  3. Aku tidak akan pergi sebuah acara pernikahan, yang mana pengantin lelakinya adalah mantanku, …

Sepertinya, dua kata sambung di atas terpengaruh oleh penerjemahan Bahasa Inggris – Indonesia yang menggunakan kata sambung dengan whose, who, which, where, dan whom. Kata-kata tersebut kemudian diterjemahkan menjadi yang mana, di mana, dengan mana, dan lainnya.

Lagi-lagi kekisruhan ini dari ejaan lama oleh Menteri Suwandi 1974.

Sebenarnya, untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk “di mana” dan “yang mana”.

Oleh karenanya, ketiga contoh di atas, cukup ditulis dengan

  1. Seorang lelaki, yang aku sangat aku cintai telah pergi bersama orang lain.
  2. Sebuah tempat yang sering kujadikan tempat bermain bersamanya, kini tinggal kenangan.
  3. Aku tidak akan pergi sebuah acara pernikahan yang pengantin lelakinya adalah mantanku, …

Segitu aja ya, silahkan jika ada yang perlu dikoreksi, sebab dosen juga manusia, bisa salah dan lupa. Hehehe…

Tinggalkan Balasan